Pancasila merupakan dasar negara Republik Indonesia yang terdiri atas lima sila dengan rumusan, bunyi, dan urutan yang baku. Dalam Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) CPNS, pemahaman mengenai rumusan resmi Pancasila menjadi bekal untuk menjawab soal yang berkaitan dengan konstitusi, sejarah perumusan Pancasila, simbol pada Garuda Pancasila, serta penerapan nilai-nilai setiap sila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rumusan resmi Pancasila tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinea keempat. Kelima sila merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Setelah mempelajari materi ini, peserta diharapkan mampu:
Rumusan resmi Pancasila terdapat dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 alinea keempat. Bagian ini memuat dasar filosofis negara Indonesia yang dirumuskan dalam lima prinsip.
Penting untuk membedakan rumusan resmi Pancasila dengan rumusan yang muncul dalam proses sejarah sebelum penetapan konstitusi. Gagasan yang disampaikan dalam pidato, rumusan dalam Piagam Jakarta, dan rumusan yang akhirnya tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 merupakan bagian dari tahapan sejarah yang berbeda.
Dalam soal TWK, peserta dapat diminta menentukan sumber rumusan Pancasila, membedakan rumusan yang berlaku dari rumusan sebelumnya, atau mengidentifikasi dokumen konstitusional yang memuat kelima sila.
Contoh:
Situasi:
Seorang peserta menyatakan bahwa bunyi resmi Pancasila yang digunakan sebagai dasar negara adalah rumusan dalam pidato Soekarno pada 1 Juni 1945.
Analisis:
Pidato 1 Juni 1945 merupakan bagian penting dari sejarah lahirnya Pancasila. Namun, rumusan resmi lima sila yang menjadi dasar negara tercantum dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 alinea keempat.
Penerapan:
Jika pertanyaan menanyakan tempat tercantumnya rumusan resmi Pancasila, jawaban yang tepat adalah Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 alinea keempat.
Berikut bunyi kelima sila Pancasila sesuai rumusan dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945.
| Urutan | Bunyi resmi sila | Kata kunci |
|---|---|---|
| 1 | Ketuhanan Yang Maha Esa. | Ketuhanan |
| 2 | Kemanusiaan yang adil dan beradab. | Kemanusiaan |
| 3 | Persatuan Indonesia. | Persatuan |
| 4 | Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. | Kerakyatan dan permusyawaratan/perwakilan |
| 5 | Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. | Keadilan sosial |
Sila pertama menegaskan nilai ketuhanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai ini berkaitan dengan penghormatan terhadap kehidupan beragama dan kepercayaan serta sikap saling menghormati antarsesama warga negara.
Dalam konteks pelayanan publik, nilai ketuhanan dapat tercermin melalui sikap menghormati keyakinan masyarakat dan memberikan pelayanan tanpa diskriminasi berdasarkan agama atau kepercayaan.
Contoh:
Situasi:
Seorang ASN melayani masyarakat dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang beragam.
Analisis:
ASN perlu menghormati keyakinan setiap warga dan menjalankan tugas secara profesional tanpa memaksakan keyakinan pribadi.
Penerapan:
Memberikan pelayanan yang setara dan menghormati kebebasan beragama merupakan perilaku yang selaras dengan nilai sila pertama.
Sila kedua menekankan penghormatan terhadap martabat manusia, perlakuan yang adil, serta perilaku yang beradab. Setiap orang perlu diperlakukan secara manusiawi tanpa membedakan latar belakang sosial, suku, agama, atau kondisi ekonomi.
Dalam pelayanan publik, nilai ini tampak dalam sikap sopan, empati, tidak merendahkan masyarakat, dan memberikan perlakuan yang adil sesuai ketentuan.
Contoh:
Situasi:
Seorang warga kesulitan memahami prosedur administrasi dan berulang kali meminta penjelasan kepada petugas.
Analisis:
Petugas seharusnya membantu dengan sabar dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, bukan mempermalukan warga tersebut.
Penerapan:
Memberikan penjelasan secara sopan dan manusiawi mencerminkan nilai sila kedua.
Sila ketiga menegaskan pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, budaya, dan latar belakang sosial. Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan membangun kehidupan bersama berdasarkan kepentingan bangsa.
Dalam konteks kebangsaan, nilai persatuan dapat diterapkan melalui kerja sama lintas kelompok, penolakan terhadap tindakan yang memecah belah masyarakat, serta pengutamaan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok yang bertentangan dengannya.
Contoh:
Situasi:
Pegawai dari berbagai daerah memiliki kebiasaan dan cara berkomunikasi yang berbeda ketika bekerja dalam satu tim.
Analisis:
Perbedaan tersebut perlu disikapi secara terbuka. Setiap anggota tim harus berfokus pada tujuan bersama dan tidak membentuk kelompok yang mendiskriminasi pegawai lain.
Penerapan:
Membangun kerja sama tanpa membedakan asal daerah merupakan penerapan nilai sila ketiga.
Sila keempat berkaitan dengan prinsip kerakyatan, pengambilan keputusan melalui permusyawaratan, dan sistem perwakilan. Keputusan bersama seharusnya mempertimbangkan kepentingan pihak-pihak terkait, dilakukan secara bijaksana, dan tidak semata-mata mengikuti kehendak pribadi.
Musyawarah bukan sekadar berkumpul atau melakukan pemungutan suara. Proses tersebut mengutamakan pertukaran pendapat, pertimbangan yang matang, dan upaya mencari keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Contoh:
Situasi:
Sebuah tim kantor harus menentukan jadwal pelayanan tambahan. Anggota tim memiliki usulan yang berbeda.
Analisis:
Ketua tim sebaiknya memberikan kesempatan kepada anggota untuk menyampaikan alasan dan mempertimbangkan kebutuhan pelayanan sebelum menetapkan keputusan.
Penerapan:
Mendengarkan pendapat, bermusyawarah, dan menetapkan keputusan secara bijaksana mencerminkan nilai sila keempat.
Sila kelima menekankan terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Nilai ini berkaitan dengan kesempatan yang adil, keseimbangan hak dan kewajiban, serta upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan, keadilan sosial dapat tercermin melalui pelayanan yang tidak diskriminatif, penggunaan anggaran yang bertanggung jawab, dan pelaksanaan program yang memperhatikan kebutuhan masyarakat sesuai aturan.
Contoh:
Situasi:
Sebuah kantor memiliki fasilitas pelayanan yang terbatas dan harus melayani masyarakat dengan kebutuhan yang beragam.
Analisis:
Petugas perlu menerapkan prosedur yang adil, mempertimbangkan ketentuan prioritas yang berlaku, dan tidak mengistimewakan seseorang hanya karena kedekatan pribadi.
Penerapan:
Melayani masyarakat secara adil sesuai prosedur mencerminkan nilai sila kelima.
Setiap sila Pancasila memiliki simbol pada perisai Garuda Pancasila. Simbol-simbol tersebut membantu masyarakat mengenali dan mengingat urutan kelima sila.
| Sila | Simbol | Cara mengingat |
|---|---|---|
| Pertama | Bintang | Sila ketuhanan |
| Kedua | Rantai | Sila kemanusiaan |
| Ketiga | Pohon beringin | Sila persatuan |
| Keempat | Kepala banteng | Sila kerakyatan dan permusyawaratan |
| Kelima | Padi dan kapas | Sila keadilan sosial |
Makna simbol tersebut merupakan penjelasan edukatif yang umum digunakan untuk membantu memahami nilai Pancasila. Dalam soal yang menanyakan simbol secara langsung, utamakan pasangan sila dan simbolnya.
Contoh:
Soal:
Simbol pohon beringin pada perisai Garuda Pancasila melambangkan sila ke berapa?
Analisis:
Pohon beringin merupakan simbol sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia.
Jawaban:
Sila ketiga.
Rumusan sila pertama mengalami perubahan dalam proses perumusan dasar negara. Dalam Piagam Jakarta, sila pertama memiliki rumusan yang berbeda dari rumusan final yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945.
Setelah melalui pembahasan dalam proses persiapan kemerdekaan, rumusan sila pertama ditetapkan menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam rumusan Pancasila yang tercantum pada Pembukaan UUD NRI Tahun 1945.
Perubahan tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari sejarah pembentukan dasar negara dan upaya merumuskan dasar bersama bagi bangsa Indonesia yang majemuk.
| Aspek | Rumusan dalam Piagam Jakarta | Rumusan final Pancasila |
|---|---|---|
| Sila pertama | Memuat frasa tentang kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya | Ketuhanan Yang Maha Esa |
| Kedudukan dalam sejarah | Salah satu rumusan dalam proses perumusan dasar negara | Rumusan yang tercantum dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 |
| Penggunaan dalam soal bunyi resmi | Bukan rumusan final sila pertama | Menjadi rumusan resmi sila pertama |
Contoh:
Situasi:
Dalam latihan TWK, peserta menemukan dua rumusan sila pertama dan diminta memilih rumusan yang berlaku dalam Pancasila saat ini.
Analisis:
Peserta perlu membedakan rumusan historis dalam Piagam Jakarta dari rumusan final yang tercantum dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945.
Jawaban:
“Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Kelima sila Pancasila tidak berdiri sendiri. Setiap sila memiliki penekanan nilai yang berbeda, tetapi seluruhnya saling berkaitan dalam membentuk dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Contohnya, kebijakan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat perlu dijalankan dengan menghormati martabat manusia, menjaga persatuan, dan mengikuti proses pengambilan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penerapan satu sila tidak seharusnya digunakan untuk membenarkan tindakan yang bertentangan dengan nilai sila lainnya.
Contoh:
Situasi:
Dalam rapat, mayoritas anggota menyetujui suatu usulan yang berpotensi merugikan kelompok masyarakat tertentu secara tidak adil.
Analisis:
Keputusan mayoritas perlu tetap dipertimbangkan berdasarkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kepentingan bersama. Musyawarah tidak menghapus tanggung jawab untuk menghormati hak orang lain.
Penerapan:
Meninjau kembali usulan agar keputusan lebih adil dan tidak diskriminatif mencerminkan pemahaman Pancasila sebagai satu kesatuan.
Menghafal bunyi Pancasila perlu dilakukan dengan memperhatikan redaksi lengkap, bukan sekadar kata kunci. Hal ini terutama penting untuk sila keempat yang memiliki rumusan lebih panjang.
Strategi belajar yang dapat digunakan:
Contoh latihan hafalan:
Ulangi pasangan tersebut dari arah sila ke simbol, lalu dari simbol ke sila. Cara ini membantu menguji ingatan dua arah.
Soal tentang rumusan dan bunyi sila Pancasila umumnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa bentuk:
| Bentuk soal | Hal yang diuji | Strategi |
|---|---|---|
| Bunyi sila | Ketepatan redaksi | Hafalkan rumusan lengkap |
| Urutan sila | Posisi setiap sila | Latih urutan satu sampai lima |
| Simbol sila | Kesesuaian simbol dan sila | Gunakan pasangan sila-simbol |
| Letak rumusan resmi | Pemahaman konstitusi | Ingat Pembukaan UUD 1945 alinea keempat |
| Sejarah perumusan | Perbedaan rumusan historis dan final | Bedakan Piagam Jakarta dengan rumusan final |
| Penerapan nilai | Pemahaman makna sila | Hubungkan nilai dengan situasi konkret |
Kesalahan yang perlu dihindari:
Soal:
Rumusan resmi Pancasila sebagai dasar negara tercantum dalam bagian konstitusi yang mana?
Opsi:
Opsi Benar:
B. Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 alinea keempat.
Pembahasan:
Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 alinea keempat memuat rumusan Pancasila yang menjadi dasar negara. Piagam Jakarta merupakan bagian penting dalam sejarah perumusan, tetapi bukan rumusan final sila pertama yang berlaku saat ini.
Soal:
Pasangan sila dan simbol yang tepat adalah ....
Opsi:
Opsi Benar:
C. Sila keempat — kepala banteng.
Pembahasan:
Kepala banteng merupakan simbol sila keempat. Simbol sila kedua adalah rantai, sila ketiga adalah pohon beringin, dan sila kelima adalah padi dan kapas.
Soal:
Manakah bunyi sila keempat Pancasila yang tepat?
Opsi:
Opsi Benar:
B. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Pembahasan:
Bunyi resmi sila keempat memuat frasa “hikmat kebijaksanaan” dan “dalam permusyawaratan/perwakilan”. Pilihan lain merupakan parafrasa atau perubahan redaksi, sehingga tidak tepat apabila soal menanyakan bunyi resmi.
Soal:
Rumusan sila pertama yang tercantum dalam Pancasila saat ini adalah ....
Opsi:
Opsi Benar:
C. Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pembahasan:
Rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan bunyi final sila pertama dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945. Rumusan dalam pilihan A merupakan bagian dari rumusan historis Piagam Jakarta.
Soal:
Seorang peserta TWK menghafal sila kelima sebagai “Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”. Apa kekeliruan utama dalam hafalannya?
Opsi:
Opsi Benar:
B. Kata “sosial” dalam rumusan resmi dihilangkan.
Pembahasan:
Bunyi resmi sila kelima adalah “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Penghilangan kata “sosial” membuat redaksi tidak lagi sama dengan rumusan resmi.
Rumusan resmi Pancasila harus dihafalkan sesuai redaksi dan urutannya. Penjelasan makna setiap sila dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana, tetapi apabila soal meminta bunyi resmi, jawaban harus menggunakan rumusan yang tepat.
UU Nomor 24 Tahun 2009 menjadi salah satu rujukan hukum terkait lambang negara. Untuk memastikan rincian ketentuan tentang simbol negara, gunakan naskah resmi peraturan tersebut. Penjelasan makna simbol dalam materi ini berfungsi sebagai bantuan belajar.