Nasionalisme di era modern merupakan kesadaran untuk mencintai, menjaga, dan memajukan bangsa yang diwujudkan melalui tindakan nyata di tengah perkembangan globalisasi dan teknologi digital. Nasionalisme tidak lagi terbatas pada perjuangan mempertahankan wilayah secara fisik, tetapi juga mencakup upaya menjaga persatuan, identitas nasional, nilai Pancasila, serta kedaulatan bangsa dalam ruang digital.
Perkembangan internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan pertukaran budaya global menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia. Teknologi dapat digunakan untuk memperkenalkan budaya nasional, memperluas pendidikan kebangsaan, dan memperkuat solidaritas masyarakat. Sebaliknya, penyalahgunaan teknologi dapat mempercepat penyebaran hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, serta fragmentasi sosial.
Bagi calon aparatur sipil negara (ASN), nasionalisme modern tercermin dalam kemampuan memanfaatkan kemajuan teknologi secara bertanggung jawab, menjaga persatuan dalam keberagaman, serta memberikan pelayanan publik yang berlandaskan Pancasila dan kepentingan nasional.
Setelah mempelajari materi ini, peserta diharapkan mampu:
Nasionalisme adalah kesadaran sebagai bagian dari suatu bangsa yang melahirkan rasa cinta tanah air, kesetiaan terhadap kepentingan nasional, serta keinginan untuk menjaga persatuan dan memajukan kehidupan bersama.
Dalam konteks Indonesia, nasionalisme berlandaskan Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, semangat persatuan dalam keberagaman, dan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Nasionalisme modern merupakan perkembangan kesadaran kebangsaan yang menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Jika perjuangan nasional pada masa kolonial berfokus pada pembebasan bangsa dari penjajahan, nasionalisme masa kini juga mencakup perlindungan identitas bangsa, penguatan daya saing, ketahanan informasi, dan partisipasi warga dalam pembangunan.
Nasionalisme modern memiliki beberapa karakteristik:
Nasionalisme modern bukan sikap menutup diri dari dunia luar. Bangsa Indonesia tetap dapat bekerja sama dengan negara lain, mempelajari ilmu pengetahuan asing, dan berpartisipasi dalam perkembangan global selama tetap menjaga kepentingan nasional dan nilai konstitusional.
Perkembangan nasionalisme dapat dipahami melalui perubahan tantangan dan bentuk kontribusi masyarakat.
| Aspek | Masa Perjuangan Kemerdekaan | Era Modern |
|---|---|---|
| Tantangan utama | Penjajahan dan penguasaan wilayah | Disinformasi, fragmentasi sosial, persaingan global, dan ancaman terhadap identitas nasional |
| Bentuk perjuangan | Perlawanan fisik, organisasi pergerakan, diplomasi, dan persatuan politik | Pendidikan, inovasi, partisipasi publik, literasi digital, dan penguatan ketahanan nasional |
| Sarana perjuangan | Organisasi pergerakan, pers, diplomasi, dan perjuangan bersenjata | Internet, media sosial, teknologi informasi, pendidikan, dan kerja sama lintas sektor |
| Tujuan | Mencapai kemerdekaan dan membentuk negara merdeka | Mempertahankan kedaulatan, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat persatuan bangsa |
Perubahan tersebut tidak berarti perjuangan fisik dan pertahanan negara kehilangan arti. Pertahanan wilayah tetap menjadi bagian dari kedaulatan negara, sedangkan nasionalisme modern memperluas ruang pengabdian masyarakat ke bidang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan teknologi.
Contoh:
Seorang mahasiswa membuat konten digital berbahasa Indonesia yang memperkenalkan batik, kuliner daerah, dan sejarah perjuangan bangsa kepada masyarakat internasional.
Analisis:
Mahasiswa tersebut menggunakan teknologi modern untuk memperkenalkan identitas nasional sekaligus membangun apresiasi terhadap kebudayaan Indonesia.
Penerapan:
Nasionalisme dapat diwujudkan melalui karya kreatif, pengembangan pengetahuan, dan pemanfaatan teknologi untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia.
Globalisasi memungkinkan masyarakat Indonesia berinteraksi dengan berbagai kebudayaan, nilai, gaya hidup, dan produk dari negara lain. Pertukaran budaya dapat memperluas wawasan, meningkatkan kreativitas, serta mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.
Namun, pengaruh budaya global juga dapat menimbulkan persoalan apabila diterima tanpa pertimbangan kritis. Westernisasi, misalnya, merujuk pada proses penerimaan atau peniruan unsur budaya Barat. Fenomena ini perlu dibedakan dari modernisasi, yaitu proses perubahan menuju kehidupan yang lebih maju melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembaruan sosial.
Mempelajari teknologi dari negara Barat tidak otomatis berarti kehilangan nasionalisme. Persoalan muncul ketika peniruan budaya dilakukan secara berlebihan hingga mengabaikan nilai lokal, merendahkan kebudayaan sendiri, atau mendorong perilaku yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
Dampak yang dapat muncul meliputi:
Sikap nasionalis bukan berarti menolak seluruh budaya asing. Masyarakat perlu membedakan unsur budaya yang dapat memperkaya kehidupan dengan perilaku yang bertentangan dengan nilai Pancasila, hukum, dan penghormatan terhadap sesama.
Sikap selektif berarti menerima pengaruh luar secara kritis dengan mempertimbangkan manfaat, kesesuaian nilai, serta dampaknya terhadap masyarakat Indonesia.
Prinsip ini berkaitan dengan Wawasan Nusantara, yaitu cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya sebagai satu kesatuan wilayah, bangsa, dan kehidupan nasional.
Wawasan Nusantara membantu masyarakat memahami bahwa keterbukaan terhadap dunia harus tetap disertai kesadaran mengenai kepentingan nasional, persatuan wilayah, dan keberagaman budaya Indonesia.
Penerapan sikap selektif dapat dilakukan melalui:
| Sikap | Karakteristik | Hubungan dengan Nasionalisme |
|---|---|---|
| Nasionalisme terbuka | Menerima kemajuan global dengan pertimbangan kritis | Memperkuat identitas bangsa sekaligus meningkatkan kemampuan bersaing |
| Nasionalisme tertutup secara berlebihan | Menolak seluruh pengaruh luar tanpa mempertimbangkan manfaatnya | Dapat menghambat pembelajaran dan kerja sama internasional |
| Peniruan tanpa pertimbangan | Mengikuti budaya luar tanpa memperhatikan dampak dan kesesuaiannya | Berpotensi mengabaikan identitas dan nilai kebangsaan |
Contoh:
Seorang ASN mengikuti pelatihan teknologi pelayanan publik dari luar negeri. Setelah pelatihan, ia menyesuaikan pengetahuan tersebut dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, peraturan yang berlaku, dan kondisi daerah tempatnya bekerja.
Analisis:
ASN tersebut terbuka terhadap kemajuan global, tetapi tetap menjadikan kepentingan masyarakat dan ketentuan nasional sebagai pertimbangan utama.
Penerapan:
Sikap nasionalis tercermin dalam kemampuan mengambil manfaat dari perkembangan dunia tanpa kehilangan tanggung jawab terhadap bangsa.
Nasionalisme digital adalah perwujudan kesadaran kebangsaan melalui pemanfaatan teknologi digital secara bertanggung jawab untuk menjaga persatuan, memperkuat identitas nasional, dan berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia.
Ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, termasuk dalam pendidikan, ekonomi, pelayanan publik, komunikasi pemerintahan, dan penyebaran informasi.
Nasionalisme dalam ruang digital tidak cukup diwujudkan dengan mengunggah simbol negara atau menyatakan kecintaan terhadap Indonesia. Sikap tersebut perlu tercermin dalam perilaku yang menghormati sesama, menjaga keamanan informasi, memeriksa kebenaran berita, dan menggunakan teknologi untuk kepentingan yang bermanfaat.
Bentuk nasionalisme digital antara lain:
Media sosial memiliki peran ganda dalam kehidupan kebangsaan. Di satu sisi, media sosial memperluas komunikasi lintas daerah, memperkenalkan budaya lokal, dan memudahkan masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
Di sisi lain, media sosial dapat mempercepat penyebaran informasi yang tidak benar, memperkuat prasangka, dan memunculkan konflik antarkelompok.
Dampak media sosial bergantung pada cara penggunaannya, karakteristik informasi yang beredar, serta perilaku masyarakat dalam merespons konten.
| Peluang | Tantangan |
|---|---|
| Memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat luas | Penyebaran stereotip dan penghinaan terhadap kelompok tertentu |
| Memperluas pendidikan sejarah dan kebangsaan | Beredarnya informasi sejarah yang keliru |
| Menggalang solidaritas dalam kegiatan kemanusiaan | Penyebaran provokasi dan informasi palsu |
| Mempermudah komunikasi antardaerah | Polarisasi dan fragmentasi kelompok |
| Mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan | Manipulasi informasi dan perdebatan yang tidak sehat |
Nasionalisme digital mengharuskan pengguna memanfaatkan peluang media sosial tanpa mengabaikan tanggung jawab sosial.
Dua fenomena yang sering dibahas dalam kajian media digital adalah echo chamber dan filter bubble. Keduanya dapat memengaruhi cara seseorang menerima informasi dan memahami kelompok yang memiliki pandangan berbeda.
Echo chamber adalah keadaan ketika seseorang lebih sering berinteraksi dengan orang atau konten yang memperkuat pandangannya sendiri. Pendapat yang sama terus berulang, sementara pandangan alternatif jarang dipertimbangkan.
Filter bubble adalah keadaan ketika personalisasi sistem digital membatasi atau menyaring informasi yang diterima pengguna berdasarkan perilaku, preferensi, dan riwayat interaksi mereka.
Perbedaan utamanya terletak pada mekanisme pembentukan lingkungan informasi.
| Aspek | Echo Chamber | Filter Bubble |
|---|---|---|
| Mekanisme utama | Interaksi sosial dan penguatan pandangan yang sama | Penyaringan informasi melalui personalisasi sistem |
| Sumber penguatan | Kelompok pertemanan, komunitas, dan akun yang diikuti | Algoritma rekomendasi dan personalisasi konten |
| Risiko | Penguatan prasangka dan penolakan terhadap pandangan berbeda | Berkurangnya paparan terhadap informasi yang beragam |
Kedua fenomena tersebut tidak selalu menghasilkan polarisasi, tetapi dapat meningkatkan risikonya apabila pengguna menerima informasi secara pasif dan tidak melakukan pemeriksaan silang.
Dalam konteks nasionalisme, ruang informasi yang tertutup dapat mengurangi pemahaman terhadap keberagaman masyarakat Indonesia. Seseorang dapat menganggap pandangan kelompoknya sebagai satu-satunya kebenaran dan memandang kelompok lain secara negatif.
Cara menghadapinya adalah memperluas sumber informasi, membaca perspektif yang berbeda, memeriksa bukti, dan berdiskusi secara santun.
Contoh:
Seorang pengguna media sosial hanya mengikuti akun yang memiliki pandangan serupa dengannya. Ketika muncul berita yang menyudutkan kelompok masyarakat tertentu, ia langsung mempercayainya karena banyak akun yang diikutinya membagikan berita serupa.
Analisis:
Pengulangan informasi dalam lingkungan yang homogen dapat menimbulkan kesan bahwa informasi tersebut pasti benar, padahal banyaknya unggahan tidak menjamin kebenarannya.
Penerapan:
Pengguna perlu mencari sumber independen, memeriksa konteks, dan mempertimbangkan bukti sebelum membagikan informasi.
Disinformasi adalah informasi salah atau menyesatkan yang disebarkan dengan sengaja untuk menipu atau memengaruhi penerima. Sementara itu, misinformasi merupakan informasi salah yang dibagikan tanpa kesadaran bahwa informasi tersebut keliru.
Istilah hoaks sering digunakan untuk menyebut informasi palsu atau menyesatkan yang disajikan seolah-olah benar.
Penyebaran informasi palsu dapat mengganggu kehidupan kebangsaan karena memengaruhi kepercayaan masyarakat, memperburuk hubungan antarkelompok, dan menghambat pengambilan keputusan berdasarkan fakta.
Dalam masyarakat yang majemuk, berita palsu yang mengaitkan suatu kelompok etnis atau agama dengan tindakan tertentu tanpa bukti dapat memicu prasangka dan konflik.
Dampaknya dapat meliputi:
Nasionalisme menuntut tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Membela bangsa bukan berarti membenarkan informasi yang menguntungkan kelompok sendiri, melainkan menjaga kehidupan bersama melalui kejujuran dan penghormatan terhadap fakta.
Ujaran kebencian merupakan ekspresi yang menyerang, merendahkan, atau mendorong kebencian terhadap seseorang maupun kelompok berdasarkan identitas tertentu. Dalam konteks hukum, penilaian terhadap suatu pernyataan perlu memperhatikan isi, konteks, sasaran, dan ketentuan yang berlaku.
Ujaran kebencian perlu dibedakan dari kritik yang disampaikan secara sah dan bertanggung jawab. Kritik terhadap kebijakan pemerintah, misalnya, tidak otomatis merupakan tindakan yang bertentangan dengan nasionalisme.
Nasionalisme yang berlandaskan Pancasila mengakui hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat sekaligus mewajibkan penghormatan terhadap hak dan martabat orang lain.
| Perilaku | Karakteristik |
|---|---|
| Kritik konstruktif | Menilai kebijakan atau tindakan berdasarkan alasan dan bukti, tanpa merendahkan identitas seseorang |
| Perbedaan pendapat | Menyampaikan pandangan berbeda dengan tetap menghormati hak orang lain |
| Ujaran kebencian | Menyerang atau merendahkan kelompok berdasarkan identitas dan dapat mendorong permusuhan |
| Disinformasi | Menyebarkan informasi salah secara sengaja untuk menyesatkan |
Literasi digital merupakan kemampuan mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi serta teknologi digital secara kritis dan bertanggung jawab.
Langkah praktis memeriksa informasi meliputi:
Contoh:
Dalam grup percakapan kantor, seorang ASN menerima pesan berantai yang menyatakan bahwa suatu kelompok masyarakat akan melakukan tindakan yang mengancam keamanan daerah. Pesan tersebut tidak mencantumkan sumber resmi atau bukti yang jelas.
Analisis:
Meneruskan pesan tersebut tanpa verifikasi dapat memperluas kepanikan dan prasangka terhadap kelompok tertentu.
Penerapan:
ASN tidak meneruskan pesan, memeriksa informasi melalui sumber yang berwenang, dan menyampaikan klarifikasi secara proporsional apabila informasi tersebut terbukti keliru.
Identitas nasional adalah ciri, nilai, simbol, dan kesadaran bersama yang membedakan suatu bangsa sekaligus membentuk rasa memiliki terhadap komunitas nasional.
Identitas nasional Indonesia terbentuk melalui sejarah perjuangan, pengalaman hidup bersama, kebudayaan, bahasa persatuan, serta komitmen terhadap Pancasila dan konstitusi.
Unsur identitas nasional Indonesia antara lain:
Identitas nasional tidak menghapus identitas daerah, suku, agama, atau komunitas. Identitas-identitas tersebut dapat hidup berdampingan dalam kerangka kebangsaan Indonesia.
Seseorang dapat mencintai budaya daerahnya sekaligus memiliki rasa kebangsaan yang kuat. Penguatan identitas lokal tidak secara otomatis melemahkan identitas nasional. Persoalan muncul ketika identitas kelompok digunakan untuk menolak kesetaraan warga negara atau merendahkan kelompok lain.
Identitas subnasional adalah identitas yang berkaitan dengan kelompok atau wilayah di dalam suatu negara, seperti identitas etnis, budaya, bahasa daerah, dan komunitas lokal.
Dalam masyarakat Indonesia, identitas subnasional merupakan bagian dari kekayaan bangsa. Keberagaman tersebut dapat memperkuat identitas nasional apabila dikelola dengan semangat kesetaraan dan saling menghormati.
| Identitas Nasional | Identitas Subnasional |
|---|---|
| Mencakup seluruh warga bangsa Indonesia | Berkaitan dengan kelompok budaya, etnis, atau wilayah tertentu |
| Berlandaskan komitmen kebangsaan dan kehidupan bernegara | Berlandaskan sejarah, tradisi, bahasa, dan pengalaman kelompok |
| Menyatukan masyarakat dalam kehidupan nasional | Memperkaya kebudayaan dan kehidupan sosial masyarakat |
Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Nasionalisme Indonesia bersifat inklusif karena mengakui keberagaman sebagai bagian dari kehidupan bangsa.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika mengandung makna berbeda-beda tetapi tetap satu. Dalam ruang digital, semboyan ini menuntut masyarakat untuk menghormati perbedaan pendapat, agama, budaya, dan latar belakang sosial.
Penerapannya mencakup:
Contoh:
Seorang pegawai pemerintah daerah melihat perdebatan di media sosial mengenai penggunaan bahasa daerah dalam acara kebudayaan. Beberapa pengguna merendahkan bahasa daerah lain.
Analisis:
Merendahkan bahasa daerah bertentangan dengan semangat penghormatan terhadap keberagaman dan dapat menimbulkan perpecahan sosial.
Penerapan:
Pegawai tersebut mengajak masyarakat menghargai seluruh bahasa daerah serta menjelaskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tetap dapat berjalan bersama pelestarian bahasa daerah.
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) merupakan teknologi yang memungkinkan sistem komputer menjalankan tugas yang memerlukan kemampuan seperti pengenalan pola, pengolahan bahasa, analisis data, dan pembuatan konten.
Dalam konteks kebangsaan, AI dapat dimanfaatkan untuk memperluas pendidikan, mendokumentasikan budaya, meningkatkan pelayanan publik, dan memperkenalkan identitas Indonesia kepada masyarakat global.
Contoh pemanfaatan AI yang mendukung nasionalisme:
Teknologi tersebut dapat memperluas akses pengetahuan dan membantu pelestarian warisan budaya, khususnya bagi generasi muda.
Namun, penggunaan AI harus memperhatikan keakuratan informasi, perlindungan data, hak cipta, dan potensi bias sistem.
AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, membuat konten manipulatif, atau memperkuat bias yang terdapat dalam data dan sistem yang digunakan.
Dalam konteks nasionalisme, risiko tersebut meliputi:
Nasionalisme digital menuntut pemanfaatan AI untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk manipulasi, provokasi, atau penyebaran informasi yang merugikan persatuan.
Penggunaan AI dalam kegiatan pendidikan, pemerintahan, dan komunikasi publik perlu memperhatikan prinsip berikut:
| Prinsip | Penerapan |
|---|---|
| Akurasi | Memeriksa kebenaran informasi yang dihasilkan AI menggunakan sumber tepercaya |
| Transparansi | Menjelaskan penggunaan AI apabila diperlukan agar masyarakat tidak disesatkan |
| Perlindungan data | Tidak memasukkan data pribadi atau informasi rahasia ke dalam sistem yang tidak berwenang |
| Keadilan | Memastikan teknologi tidak mendiskriminasi kelompok tertentu |
| Akuntabilitas | Memastikan manusia tetap bertanggung jawab atas keputusan dan hasil yang dipublikasikan |
AI merupakan alat bantu, bukan pengganti tanggung jawab manusia. Keputusan yang menyangkut hak masyarakat, pelayanan publik, dan kepentingan negara tetap memerlukan pertimbangan manusia serta kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.
Contoh:
Seorang ASN menggunakan AI untuk menyusun bahan sosialisasi mengenai sejarah daerah. Sistem menghasilkan informasi mengenai suatu peristiwa, tetapi tidak mencantumkan sumber yang jelas.
Analisis:
Informasi yang dihasilkan AI tidak otomatis benar. Menggunakannya secara langsung dapat menyebarkan kekeliruan sejarah kepada masyarakat.
Penerapan:
ASN memeriksa informasi melalui arsip, dokumen resmi, atau sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan sebelum menerbitkan bahan sosialisasi.
Generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang memungkinkan akses cepat terhadap informasi, hiburan, pendidikan, dan interaksi lintas negara.
Kondisi tersebut memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dan memperluas wawasan kebangsaan. Generasi muda juga dapat berperan dalam pelestarian budaya, inovasi teknologi, kewirausahaan, serta partisipasi sosial.
Tantangan yang dapat dihadapi meliputi:
Tantangan tersebut tidak berarti seluruh generasi muda kehilangan nasionalisme. Perilaku dan kesadaran kebangsaan berbeda-beda, dipengaruhi lingkungan keluarga, pendidikan, pengalaman sosial, dan akses terhadap informasi.
Nasionalisme generasi muda perlu dikembangkan melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan mereka, bukan hanya melalui hafalan simbol dan sejarah.
Penguatan nasionalisme perlu dilakukan melalui pendidikan, keteladanan, partisipasi, dan pemanfaatan teknologi.
1. Pendidikan kebangsaan yang kontekstual
Pendidikan Pancasila, sejarah, dan kewarganegaraan perlu dikaitkan dengan persoalan nyata seperti toleransi, korupsi, lingkungan, pelayanan publik, dan etika digital.
2. Pengembangan kreativitas digital
Generasi muda dapat membuat video edukasi, permainan digital, dokumentasi budaya, dan karya kreatif yang memperkenalkan Indonesia.
3. Pelestarian budaya lokal
Kegiatan seni, penggunaan bahasa daerah, dokumentasi tradisi, serta promosi produk budaya dapat membantu menjaga keberlanjutan warisan bangsa.
4. Partisipasi sosial dan kebangsaan
Keterlibatan dalam kegiatan sukarela, musyawarah, pengabdian masyarakat, dan kegiatan kemanusiaan memperkuat rasa tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
5. Keteladanan dalam penggunaan teknologi
Guru, orang tua, pemimpin komunitas, dan ASN perlu memberikan contoh dalam memeriksa informasi, menghargai perbedaan, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Contoh:
Sekelompok pelajar membuat kanal digital yang mengangkat cerita perjuangan tokoh daerah, tradisi lokal, dan keberagaman budaya Indonesia. Mereka menggunakan arsip serta mewawancarai narasumber yang memahami sejarah setempat.
Analisis:
Kegiatan tersebut menggabungkan kreativitas generasi muda dengan pendidikan sejarah dan pelestarian budaya.
Penerapan:
Nasionalisme dapat dikembangkan melalui kegiatan yang menarik, berbasis pengetahuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi ASN, nasionalisme merupakan komitmen untuk menjalankan tugas secara profesional, menjaga persatuan, menaati ketentuan hukum, serta mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara.
Nasionalisme dalam birokrasi tidak diukur dari banyaknya simbol kebangsaan yang digunakan, melainkan dari integritas, kualitas pelayanan, keadilan, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
Penerapannya meliputi:
Digitalisasi pelayanan publik dapat memperluas akses masyarakat, mempercepat proses administrasi, dan meningkatkan transparansi. Namun, penerapannya harus memperhatikan keamanan data, aksesibilitas, dan kesetaraan pelayanan.
ASN yang memiliki nasionalisme modern tidak sekadar mendorong penggunaan teknologi, tetapi memastikan bahwa teknologi tersebut benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Contohnya, layanan digital perlu mempertimbangkan masyarakat yang memiliki keterbatasan akses internet, kemampuan literasi digital yang berbeda, atau kebutuhan aksesibilitas tertentu.
Nasionalisme dalam pelayanan publik berarti memastikan kemajuan teknologi tidak meninggalkan kelompok masyarakat yang membutuhkan pelayanan negara.
Contoh:
Sebuah instansi menerapkan sistem pendaftaran pelayanan secara daring. Sebagian masyarakat di wilayah terpencil mengalami kesulitan menggunakan sistem tersebut karena keterbatasan jaringan dan kemampuan digital.
Analisis:
Digitalisasi yang tidak memperhatikan kondisi masyarakat dapat menimbulkan kesenjangan akses pelayanan.
Penerapan:
ASN mengusulkan pendampingan penggunaan layanan, penyediaan informasi yang mudah dipahami, dan mekanisme pelayanan alternatif sesuai ketentuan yang berlaku.
Tindakan tersebut mencerminkan nasionalisme melalui pelayanan yang inklusif, adil, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Nasionalisme modern tidak identik dengan penolakan terhadap globalisasi, budaya asing, kritik kepada pemerintah, atau perkembangan teknologi.
Nasionalisme yang berlandaskan Pancasila justru mendorong keterbukaan terhadap kemajuan dunia dengan tetap menjaga persatuan, martabat manusia, identitas nasional, dan kepentingan bangsa.
Dalam soal TWK, perhatikan perbedaan antara tindakan yang sekadar menunjukkan simbol kebangsaan dan tindakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Beberapa miskonsepsi yang perlu dihindari:
Nasionalisme perlu dinilai berdasarkan sikap, tujuan, cara bertindak, dan dampaknya terhadap persatuan serta kepentingan masyarakat.
Nasionalisme di era modern merupakan kesadaran kebangsaan yang berkembang mengikuti perubahan globalisasi dan teknologi digital. Nasionalisme tetap berlandaskan Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen terhadap NKRI.
Globalisasi memberikan peluang berupa pertukaran ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, serta promosi budaya Indonesia. Namun, globalisasi juga menghadirkan tantangan berupa disinformasi, ujaran kebencian, fragmentasi sosial, pengaruh budaya tanpa pertimbangan kritis, dan risiko penyalahgunaan teknologi.
Media sosial dan AI dapat digunakan untuk memperkuat identitas nasional melalui pendidikan, pelestarian budaya, dan pelayanan publik. Penggunaannya perlu disertai literasi digital, verifikasi informasi, perlindungan data, dan tanggung jawab manusia.
Bagi generasi muda dan ASN, nasionalisme modern diwujudkan melalui kontribusi nyata, penghormatan terhadap keberagaman, penggunaan teknologi secara etis, serta pelayanan yang adil dan berorientasi pada kepentingan bangsa.