Deret angka merupakan pola bilangan yang disusun berdasarkan hubungan tertentu antarsuku. Dalam soal TIU, pola dapat berupa penambahan atau pengurangan dengan nilai tetap, perkalian atau pembagian dengan rasio tetap, maupun pola yang menggunakan lebih dari satu aturan. Kemampuan utama yang diperlukan adalah mengenali hubungan antarsuku, menentukan pola yang konsisten, dan menggunakannya untuk menemukan suku yang ditanyakan.
Setelah mempelajari materi ini, peserta diharapkan mampu:
Deret atau barisan aritmetika merupakan pola bilangan yang memiliki beda atau selisih tetap antara dua suku yang berurutan.
Bentuk umum barisan aritmetika adalah:
a, a+b, a+2b, a+3b, ...
Keterangan:
a = suku pertama.b = beda atau selisih tetap.U_n = suku ke-n.Beda dapat diperoleh dengan mengurangkan suatu suku dengan suku sebelumnya:
b = U_n - U_(n-1)
Jika yang dicari adalah suku ke-n, digunakan rumus:
U_n = a + (n-1)b
Dalam soal TIU, tidak semua pola aritmetika harus dimulai dari bilangan positif. Beda dapat bernilai positif, negatif, atau nol.
Soal:
Tentukan angka berikutnya dari deret:
7, 12, 17, 22, ...
Analisis:
Selisih antarsuku:
12 - 7 = 5
17 - 12 = 5
22 - 17 = 5
Beda selalu 5.
Penerapan:
Angka berikutnya:
22 + 5 = 27
Jawaban:
27
Barisan geometri merupakan pola bilangan yang memiliki rasio tetap antara dua suku yang berurutan.
Rasio diperoleh dengan membandingkan suatu suku dengan suku sebelumnya:
r = U_n / U_(n-1)
Bentuk umum barisan geometri adalah:
a, ar, ar², ar³, ...
Suku ke-n dapat ditentukan dengan rumus:
U_n = ar^(n-1)
Keterangan:
a = suku pertama.r = rasio.n = nomor suku.U_n = suku ke-n.Dalam soal TIU, pola geometri dapat berupa perkalian maupun pembagian yang tetap.
Soal:
Tentukan angka berikutnya dari deret:
3, 6, 12, 24, ...
Analisis:
Perbandingan antarsuku:
6 / 3 = 2
12 / 6 = 2
24 / 12 = 2
Rasionya selalu 2.
Penerapan:
Angka berikutnya:
24 × 2 = 48
Jawaban:
48
Membedakan kedua pola merupakan langkah awal yang penting dalam mengerjakan deret angka.
| Aspek | Aritmetika | Geometri |
|---|---|---|
| Hubungan antarsuku | Penjumlahan atau pengurangan tetap | Perkalian atau pembagian tetap |
| Nilai tetap | Beda (b) | Rasio (r) |
| Bentuk umum | a, a+b, a+2b, ... | a, ar, ar², ... |
Rumus suku ke-n | U_n = a + (n-1)b | U_n = ar^(n-1) |
| Contoh | 4, 7, 10, 13, ... | 4, 8, 16, 32, ... |
Contoh:
Perhatikan dua deret berikut.
Deret A:
10, 15, 20, 25, ...
Selisihnya selalu 5, sehingga merupakan pola aritmetika.
Deret B:
10, 20, 40, 80, ...
Perbandingannya selalu 2, sehingga merupakan pola geometri.
Kesimpulan:
Deret A menggunakan beda tetap, sedangkan Deret B menggunakan rasio tetap.
Tidak semua deret angka memiliki beda atau rasio yang tetap. Dalam soal TIU, dapat ditemukan pola yang menggunakan aturan lain, misalnya:
Istilah deret campuran atau deret bertingkat lebih tepat dipahami sebagai pola angka selain pola aritmetika dan geometri. Istilah tersebut bukan klasifikasi utama dalam materi matematika sekolah.
Pada pola berselang-seling, terdapat dua aturan yang berjalan secara bergantian. Cara mengenalinya adalah dengan memisahkan suku berdasarkan posisi ganjil dan genap.
Misalnya:
2, 5, 4, 10, 6, 15, ...
Jika dipisahkan:
2, 4, 6, ...5, 10, 15, ...Masing-masing kelompok memiliki pola sendiri.
Soal:
Tentukan dua angka berikutnya dari deret:
3, 6, 5, 12, 7, 18, ...
Analisis:
Pisahkan berdasarkan posisi:
Posisi ganjil:
3, 5, 7, ...
Polanya bertambah 2.
Posisi genap:
6, 12, 18, ...
Polanya bertambah 6.
Penerapan:
Suku ke-7:
7 + 2 = 9
Suku ke-8:
18 + 6 = 24
Jawaban:
9, 24
Pada pola selisih bertingkat, selisih antar-suku tidak tetap. Namun, selisih tersebut dapat membentuk pola lain.
Contoh:
2, 5, 10, 17, 26, ...
Selisih antarsuku:
+3, +5, +7, +9, ...
Selisih pertama tidak tetap, tetapi selisihnya sendiri membentuk pola aritmetika dengan kenaikan 2.
Pola seperti ini dapat digunakan untuk menemukan suku berikutnya dengan menganalisis tingkat perubahan secara bertahap.
Soal:
Tentukan angka berikutnya dari:
4, 9, 16, 25, 36, ...
Analisis:
Selisih:
+5, +7, +9, +11
Selisih tersebut bertambah 2 setiap kali.
Selisih berikutnya adalah:
11 + 2 = 13
Penerapan:
36 + 13 = 49
Jawaban:
49
Beberapa deret menggunakan operasi yang berbeda secara berurutan. Misalnya, operasi tambah dan kali dilakukan secara bergantian.
Untuk menemukan pola seperti ini, jangan langsung berasumsi bahwa semua suku mengikuti satu operasi. Periksa hubungan setiap pasangan suku secara berurutan.
Soal:
Tentukan angka berikutnya dari:
2, 5, 10, 13, 26, ...
Analisis:
Perhatikan operasi secara bergantian:
2 + 3 = 5
5 × 2 = 10
10 + 3 = 13
13 × 2 = 26
Pola operasinya adalah:
+3, ×2, +3, ×2, ...
Penerapan:
Karena operasi berikutnya adalah +3:
26 + 3 = 29
Jawaban:
29
Untuk mengerjakan deret angka secara efektif, gunakan urutan analisis berikut.
Kurangkan setiap suku dengan suku sebelumnya.
Jika selisihnya tetap, kemungkinan besar deret tersebut merupakan pola aritmetika.
Jika selisih tidak tetap, periksa perbandingan setiap suku dengan suku sebelumnya.
Jika rasionya tetap, deret tersebut merupakan pola geometri.
Jika pola belum ditemukan, pisahkan suku berdasarkan posisi:
Cara ini berguna untuk menemukan pola berselang-seling.
Jika selisih pertama tidak tetap, cari pola pada selisih tersebut.
Contohnya:
+2, +4, +6, +8, ...
atau:
+3, +6, +9, +12, ...
Periksa kemungkinan adanya operasi yang dilakukan secara bergantian, seperti:
Pola yang ditemukan harus dapat menjelaskan seluruh hubungan antarsuku yang tersedia. Jangan memilih pola hanya karena cocok dengan dua atau tiga pasangan angka.
Soal:
Tentukan angka berikutnya:
8, 11, 17, 20, 26, ...
Langkah Penyelesaian:
Periksa selisih:
+3, +6, +3, +6, ...
Terlihat bahwa terdapat dua pola yang bergantian:
+3, +6, +3, +6, ...
Setelah 26, operasi berikutnya adalah +3.
26 + 3 = 29
Jawaban:
29
Tidak semua deret memiliki selisih tetap. Jika selisih berubah, jangan memaksakan rumus aritmetika.
Deret dengan angka yang semakin besar belum tentu merupakan geometri. Rasio harus diperiksa secara konsisten.
Jika seluruh deret tampak tidak beraturan, coba pisahkan posisi ganjil dan genap sebelum mencari aturan yang lebih kompleks.
Sebuah pola harus mampu menjelaskan seluruh suku yang diberikan. Pola yang hanya cocok untuk beberapa pasangan angka belum cukup untuk menjadi dasar jawaban.
Dalam soal deret angka, jangan menentukan jawaban hanya berdasarkan satu operasi yang kebetulan cocok pada dua suku. Verifikasi aturan tersebut pada seluruh deret sebelum memilih jawaban.
Untuk soal TIU, istilah “deret angka” sering digunakan secara umum untuk soal yang meminta peserta menemukan pola pada rangkaian bilangan. Polanya tidak selalu berupa deret aritmetika atau geometri. Karena itu, setelah memeriksa beda dan rasio, lanjutkan dengan analisis pola berselang-seling, selisih bertingkat, atau kombinasi operasi.
Pola aritmetika memiliki beda tetap.
Pola geometri memiliki rasio tetap.
Suku ke-n barisan aritmetika:
U_n = a + (n-1)b
Suku ke-n barisan geometri:
U_n = ar^(n-1)
Pola selain aritmetika dan geometri dapat berupa pola berselang-seling, selisih bertingkat, atau kombinasi operasi.
Pemisahan suku ganjil dan genap dapat membantu menemukan pola yang berselang-seling.
Jika selisih pertama tidak tetap, periksa pola pada selisih tersebut.
Pola yang ditemukan harus konsisten dengan seluruh suku yang tersedia.